Insiden kontroversi yang melibatkan Vinicius Junior dan Gianluca Prestianni menjadi sorotan tajam setelah pertandingan play-off Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica. Dalam laga yang berlangsung di Estadio da Luz, Lisbon, suasana memanas setelah Vinicius mencetak gol penentu kemenangan. Ketegangan meningkat ketika sang pemain Madrid menuduh Prestianni melakukan pelecehan rasial di tengah pertandingan.

Situasi tersebut memaksa wasit menghentikan pertandingan selama sekitar 10 menit. Vinicius terlihat menutupi wajahnya dengan jersey sebagai bentuk protes, sementara pemain dari kedua tim berusaha menenangkan situasi. Insiden ini langsung menyita perhatian publik dan memicu perdebatan luas tentang rasisme di sepak bola.
Peristiwa tersebut bukan hanya berdampak pada jalannya pertandingan, tetapi juga menambah daftar panjang kasus diskriminasi yang masih terjadi di kompetisi elite Eropa. Banyak pihak menilai insiden ini sebagai pengingat bahwa perjuangan melawan rasisme di sepak bola masih jauh dari selesai.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Pernyataan dan Klarifikasi Prestianni yang Memicu Perdebatan Baru
Dalam penyelidikan yang dilakukan oleh UEFA, Prestianni memberikan kesaksian bahwa ia tidak menggunakan kata “mono” (monyet) yang berkonotasi rasial. Ia mengaku menggunakan hinaan anti-gay dalam bahasa Spanyol, sebuah pernyataan yang justru memicu kontroversi baru.
Pengakuan tersebut menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan, karena pelecehan berbasis orientasi seksual juga termasuk pelanggaran serius dalam sepak bola modern. Banyak pengamat menilai bahwa klarifikasi tersebut tidak mengurangi tingkat keseriusan tindakan, melainkan memperluas dimensi diskriminasi yang terjadi.
Kasus ini memperlihatkan bahwa bentuk pelecehan dalam sepak bola tidak terbatas pada isu rasial saja, tetapi juga mencakup diskriminasi terhadap orientasi seksual. Hal ini memperkuat tuntutan agar otoritas sepak bola menerapkan kebijakan yang lebih tegas dan edukatif.
Baca Juga: Pep Guardiola Tak Peduli Klasemen, Fokus Manchester City Mengejar Arsenal Hingga Akhir Musim
Dukungan dan Kesaksian: Solidaritas untuk Vinicius Jr.

Sejumlah pemain dan staf Real Madrid memberikan dukungan penuh kepada Vinicius. Kylian Mbappe menyatakan bahwa ia mendengar langsung hinaan yang dilontarkan Prestianni, bahkan menyebut insiden tersebut terjadi berulang kali selama pertandingan. Kesaksian ini memperkuat posisi Madrid dalam penyelidikan UEFA.
Gelandang Aurelien Tchouameni juga mengungkapkan bahwa Prestianni sempat memberikan penjelasan terkait ucapannya setelah pertandingan. Sementara itu, pelatih Alvaro Arbeloa menyerukan hukuman tegas agar kasus ini menjadi titik balik dalam memerangi diskriminasi di sepak bola.
Dukungan luas dari rekan setim menunjukkan solidaritas kuat terhadap korban pelecehan. Banyak pihak menilai bahwa keberanian pemain untuk bersuara menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih inklusif dan menghormati martabat manusia.
Regulasi UEFA dan Dampak Besar bagi Dunia Sepak Bola
Peraturan disiplin UEFA, khususnya Pasal 14, menegaskan bahwa pelecehan rasial maupun anti-gay memiliki kerangka hukuman yang sama. Pelanggaran terhadap martabat manusia berdasarkan ras, warna kulit, agama, atau orientasi seksual dapat berujung pada skorsing minimal 10 pertandingan atau sanksi berat lainnya.
Penerapan aturan ini menunjukkan komitmen UEFA dalam memerangi segala bentuk diskriminasi. Jika Prestianni terbukti bersalah, hukuman tegas berpotensi menjadi preseden penting bagi kasus-kasus serupa di masa depan.
Kasus ini juga memberi pesan kuat bahwa sepak bola modern tidak lagi mentoleransi ujaran kebencian dalam bentuk apa pun. Insiden yang melibatkan Vinicius Jr. menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan diskriminasi harus terus diperkuat demi menjaga nilai sportivitas dan kemanusiaan dalam olahraga. Simak terus pembahasan sepak bola terupdate lainnya hanya di goalednetwork.com.
