Ole Gunnar Solskjaer resmi meninggalkan Manchester United pada November 2021, mengakhiri hampir tiga tahun masa kepemimpinannya sebagai manajer. Dibawah ini Anda akan melihat informasi mengenai sepak bola menarik lainnya yang telah dirangkum oleh GOALED NETWORK

Kepergiannya menutup satu fase penting dalam perjalanan klub pasca-era Sir Alex Ferguson. Meski berakhir dengan pemecatan, periode Solskjaer tetap meninggalkan kesan mendalam bagi klub dan suporter.
Solskjaer awalnya datang sebagai pelatih interim pada akhir 2018 untuk menggantikan Jose Mourinho. Di luar dugaan, ia mampu mengangkat performa tim secara signifikan dan mengembalikan suasana positif di ruang ganti. Keberhasilan tersebut membuat manajemen menunjuknya sebagai pelatih permanen pada 2019.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Selama melatih, Solskjaer mencatat dua kali finis di tiga besar Premier League secara beruntun dan membawa United ke final Liga Europa 2020/2021. Finis sebagai runner-up liga pada 2021 membuat namanya sejajar dengan Jose Mourinho sebagai pelatih tersukses MU setelah Ferguson.
Kembali ke Akar Sepak Bola di Norwegia
Setelah meninggalkan Manchester United, Solskjaer tidak terburu-buru kembali ke dunia kepelatihan elite. Ia memilih rehat sejenak dari tekanan besar sepak bola level atas dan pulang ke Norwegia. Keputusan ini memperlihatkan sisi lain Solskjaer yang lebih sederhana dan membumi.
Pada September 2022, Solskjaer secara sukarela membantu klub masa kecilnya, Kristiansund. Ia melatih tim U-14, tim yang saat itu diperkuat putranya sendiri, Elijah. Peran ini jauh dari sorotan media, namun sarat makna secara personal.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Solskjaer tetap memiliki kecintaan besar pada sepak bola, khususnya pembinaan usia muda. Ia menikmati peran sebagai mentor, tanpa tekanan hasil dan ekspektasi besar seperti yang ia alami di Manchester United.
Baca Juga: Chelsea Membuka Babak Baru dengan Membidik Bek Sayap Borussia Dortmund!
Menjaga Sentuhan lewat Peran di UEFA

Memasuki tahun 2023, Solskjaer kembali aktif di level Eropa melalui peran baru sebagai pengamat teknis UEFA. Dalam tugas ini, ia menganalisis pertandingan dari sudut pandang kepelatihan, menilai aspek taktik, dan menyusun laporan teknis untuk UEFA.
Peran tersebut membuat Solskjaer tetap dekat dengan perkembangan sepak bola modern. Ia mempelajari tren taktik terbaru, pendekatan kepelatihan baru, serta dinamika pertandingan elite Eropa dari berbagai sudut kamera.
Menjelang musim Liga Champions 2025/2026, Solskjaer menyebut pekerjaan ini memberinya ruang belajar tanpa tekanan. Selain itu, ia tetap menjaga jaringan dengan pelatih, pemain, dan pengambil keputusan sepak bola Eropa dalam suasana yang lebih santai.
Petualangan Singkat dan Menantang di Turki
Babak baru karier kepelatihan Solskjaer kembali terbuka pada Januari 2025 ketika ia ditunjuk sebagai pelatih kepala Besiktas. Ia menandatangani kontrak berdurasi satu setengah tahun dan membawa harapan baru bagi klub raksasa Turki tersebut.
Enam bulan awal berjalan cukup menjanjikan. Besiktas mencatat delapan kemenangan dan satu hasil imbang dari 12 pertandingan, termasuk kemenangan penting 2-1 atas Galatasaray yang saat itu belum terkalahkan di liga. Performa tim menunjukkan progres positif.
Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Pada Agustus 2025, Solskjaer dipecat setelah Besiktas gagal lolos ke kompetisi Eropa. Tersingkir dari Liga Europa dan kalah di play-off Conference League menjadi akhir singkat petualangannya di Turki, sekaligus membuka kembali spekulasi soal langkah berikutnya dalam karier kepelatihannya. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita sepak bola menarik lainnya di goalednetwork.com.
