Final Piala Super Spanyol melawan Barcelona menjadi malam penuh tekanan bagi Real Madrid. Laga tersebut bukan sekadar perebutan trofi, tetapi juga penentuan nasib Xabi Alonso sebagai pelatih. Dibawah ini Anda akan melihat informasi mengenai sepak bola menarik lainnya yang telah dirangkum oleh GOALED NETWORK

Di tengah situasi genting itu, Kylian Mbappe mengambil keputusan berani yang mengejutkan banyak pihak. Mbappe memilih tampil meski kondisi lututnya belum pulih. Ia menyadari bahwa kehadirannya bisa menjadi faktor pembeda, sekaligus harapan terakhir bagi Alonso untuk mempertahankan jabatannya.
Keputusan itu diambil dengan penuh kesadaran akan risiko besar yang mengintai. Hubungan dekat antara Mbappe dan Alonso menjadi latar belakang utama aksi nekat tersebut. Dalam waktu singkat, keduanya membangun rasa saling percaya yang kuat, membuat Mbappe rela mengorbankan kondisi fisiknya demi sang pelatih.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Mengabaikan Saran Medis Demi Tim
Sebelum laga final, tim medis Real Madrid sebenarnya telah memberikan peringatan tegas. Cedera keseleo lutut yang dialami Mbappe tergolong serius dan membutuhkan waktu pemulihan hingga akhir Januari. Bermain lebih cepat berpotensi memperparah cedera.
Namun, situasi krisis membuat rencana berubah. Alonso disebut sangat berharap Mbappe bisa tampil, meski hanya sebentar. Permintaan itu diterima sang pemain tanpa paksaan, sebagai bentuk loyalitas dan tanggung jawab moral kepada tim.
Menariknya, Mbappe memilih bermain tanpa suntikan pereda nyeri. Ia menahan rasa sakit sepanjang pertandingan, sebuah keputusan yang menunjukkan betapa besar tekadnya. Sayangnya, pengorbanan tersebut tidak berujung pada hasil yang diharapkan.
Baca Juga: Langkah Sunyi Ole Gunnar Solskjaer Setelah Berpisah dari Old Trafford
Kekalahan dan Kritik yang Menyakitkan

Real Madrid akhirnya kalah 3-2 dari Barcelona, hasil yang langsung mengakhiri masa jabatan Xabi Alonso. Pengorbanan Mbappe pun terasa sia-sia, bahkan ia justru menjadi sasaran kritik usai pertandingan.
Sebagian pihak menuding Mbappe bersikap tidak sportif terkait isu guard of honour untuk Barcelona. Namun laporan lain menyebutkan bahwa instruksi justru datang dari Alonso sendiri agar tradisi tetap dijalankan, membuat kritik tersebut dianggap tidak adil.
Di balik sorotan negatif, Mbappe tetap menunjukkan kelasnya. Ia memilih diam dan tidak memperkeruh suasana, fokus pada rasa hormat terhadap pelatih yang telah memberinya kepercayaan sejak hari pertama.
Perpisahan Emosional dan Awal Era Baru
Tak lama setelah pemecatan Alonso diumumkan, Mbappe menyampaikan pesan perpisahan yang menyentuh melalui media sosial. Ia menyebut kebersamaannya dengan Alonso singkat, namun penuh makna dan pelajaran berharga.
Kini, Real Madrid memasuki era baru di bawah Alvaro Arbeloa sebagai pelatih sementara. Fokus utama klub adalah memulihkan kondisi Mbappe agar siap menghadapi fase krusial musim ini, terutama di kompetisi Eropa.
Arbeloa diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam mengelola kebugaran sang bintang. Pengalaman pahit ini menjadi pengingat bahwa loyalitas dan pengorbanan besar tidak selalu berbuah manis, namun tetap meninggalkan kisah kemanusiaan yang kuat di dunia sepak bola. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita sepak bola menarik lainnya di goalednetwork.com.
